Today

Rekontruksi Pembunuhan dan Pencabulan Bocah Lima Tahun di Sukabumi

SUKABUMITODAY.CO, Sukabumi – Polres Sukabumi Kota menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan dan pencabulan terhadap bocah lima tahun berinisial NP, Selasa (1/10/2019). Dikarenakan dua tersangka masih di bawah umur, rekontruksi pun dilakukan secara tertutup di ruangan Mapolres.

Kasus pembunuhan NP dan hubungan inses keluarga ini pun mengejutkan warga Kampung Bojongloa Wetan, Kelurahan Situ Mekar, Kecamatan Lembur Situ, Kota Sukabumi, Jawa Barat.

Kapolres Sukabumi Kota AKBP, Wisnu Prabowo mengatakan, ketiga tersangka melakukan 34 adegan dalam melancarkan aksinya. Ketiga tersangka tersebut, yaitu ibu tiri korban SR (35) dan dua kakak angkatnya RD (14) serta RN (16).

“Tidak ada fakta baru dalam rekonstruksi. Semua sudah sesuai dengan dalam penyidikan,” katanya.

Jasad Dibuang di Sungai

Proses rekonstruksi itu berlangsung selama 42 menit. Diawali saat korban dicabuli kedua tersangka sampai akhirnya dicekik ibu tiri hingga tewas. Kemudian, jenazahnya mereka bawa ke sungai dengan cara digendong secara bergiliran. Setelah tiba di sungai, jasadnya pun dibuang.

“Jadi ketiga tersangka ini terlibat dalam pembunuhannya. Eksekusi pada adegan ke-22,” ucapnya.

Pengungkapan, lanjut Wisnu, kasus ini sekaligus mengungkap skandal hubungan sedarah atau inses antara ibu dan anak, yaitu tersangka SR yang sempat berhubungan badan dengan RN setelah mencabuli korban.

“Motif SR hingga terjadi kasus inses ini karena tersangka sudah lama tidak mendapat nafkah batin dari suami. Dia melampiaskan hasratnya kepada kedua anak kandungnya,” jelasnya.

Atas perbuatannya, pelaku dapat dijerat dengan Undang-Undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan PP RI Nomor 01 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dan atau UU RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan kedua atas UU RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Mirip Kasup Engeline di Bali

Sementara itu, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait ikut menanggapi kasus ini. Menurutnya kasus ini mirip dengan kejadian Engeline di Bali beberapa waktu yang lalu.

“Ini mirip kejadian Engeline di Bali. Karena guru, tetangga sudah tahu (soal penganiayaan), tapi selalu menganggap kalau nanti (korban) ditolong dianggap mengintervensi keluarga itu,” katanya, Selasa (1/10/2019).

Selain itu, Arist pun berharap kasus-kasus serupa tidak kembali berulang di Indonesia. Kasus yang saat ini terjadi di Sukabumi mesti dijadikan momentum guna kejadian kekerasan terhadap anak tidak kembali terulang.

“Enggak boleh lagi ini, kasus ini harus dijadikan momentum gerakan perlindungan anak yang tidak lagi melihat kejahatan anak itu hanya urusan rumah tangga masing-masing. Bisa terjadi kalau kota dan kabupaten mencanangkan gerakan perlindungan anak sekampung yang terintegrasi dengan gerakan layanan di perangkat desa dan bisa mengeluarkan Perdes untuk melindungi anak,” tuturnya.

Menurutnya, selama ini dominan pemerintah daerah masih tidak peduli terhadap persoalan kekerasan terhadap anak. Padahal, apabila ada dukungan penuh maka kejadian serupa tidak akan terjadi kembali. “Padahal anggaran untuk itu ada dan cukup besar,” ucapnya.

Bahkan, ketika berbicara dengan Arist, SR menangis. Aksi pembunuhan itu pun SR ceritakan kembali kepada Arist dan Arist menyebut tangisan SR merupakan hal yang biasa ditemui ketika pelaku kejahatan menyesali perbuatan setelah terjadi.

“Dalam aksi kejahatan atau perbuatan tidak terpuji kan selalu disesali, hal biasa dia menangis. Kalau saya lihat dari ketiga pelaku tidak ada beban psikologis,” jelasnya.(ct1)

Penulis: Afsal Muhammad

Baca Selengkapnya

Berita Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d bloggers like this: