Arteria Dahlan Menunjuk-nunjuk Emil Salim Saat Debat

oleh
October 10, 2019 3:30 am

SUKABUMITODAY.CO, Jakarta – Arteria Dahlan beradu argumen dengan ekonom Emil Salim soal Perppu KPK. Bahkan, Politikus PDIP itu pun hingga menunjuk-nunjuk dan menyebut Emil telah sesat.

Debat Arteria dan Emil itu disiarkan dalam program Mata Najwa episode Ragu-ragu Perpu, Rabu (8/10/2019). Potongan debat tersebut pun diunggah dalam akun Twitter @TRANS7. Arteria mulanya membicarakan soal publik yang terhipnotis dengan operasi tangkap tangan (OTT) yang dilaksanakan KPK.

“Publik ini nggak tahu, publik ini terhipnotis dengan OTT, OTT. Seolah-olah itu hebat, padahal janji-janjinya KPK banyak sekali di hadapan DPR yang sama sekali kita katakan sepuluh persen pun belum tercapai hingga saat ini,” ucap Arteria.

Kemudian, pernyataan Arteria Dahlan itu dibalas Emil. Mantan menteri di era Presiden Soeharto itu menyinggung mengenai ketua partai yang terjerat kasus di KPK.

“Apa semua ketua partai masuk penjara, apa itu tidak bukti keberhasilan KPK?” kata Emil disambut sorak dan tepuk tangan penonton.

Penangkapan ketua partai tersebut, lanjut Arteria, hanyalah sebagian kecil dari kerja KPK. Arteria memperhatikan beberapa hal mulai dari monitoring sampai pencegahan.

“Nggak itu sebagian kecil Prof. Prof, gini loh, Prof dengan segala hormat saya sama professor bacalah tugas fungsi kewenangan KPK, tidak hanya melakukan penindakan tapi bagaimana pencegahan. Bagaimana penindakannya, bagaimana juga supervisi, monitoring ini dan koordinasi ini tidak dikerjakan Prof, tolong jangan dibantah dulu Prof,” jelas Arteria.

Banyak Kasus yang Tidak Diangkat

Kemudian, Arteria Dahlan bicara panjang lebar terkait alasan pembentukan dewan pengawas. Bahkan, dia pun menyinggung soal KPK gadungan. Lalu, dia bicara soal beberapa kasus di Sumatera Barat. Menurut Arteria, Kasus tersebut tidak pernah diangkat.

“Di Sumatera Barat, saya buktikan lagi, ini ada kasus Rp 6 triliun, dana bencana kemudian juga masalah KONI, kemudian juga masalah pasar, enggak pernah diangkat, kenapa dicek lagi apakah ada serah terima penyerahan kebun sawit, motor-motor besar, siapa yang menerimanya tanyakan sama beliau?” kata dia.

“Ingin saya katakan inilah yang ingin kita coba, kita hargai capaian-capaian KPK Prof, tapi tidak boleh menutup mata kalau memang harus ada pembenahan terhadap KPK,” sambung Arteria.

Emil Salim lantas menuturkan bahwa terdapat kewajiban dalam UU KPK guna menyampaikan laporan. Lalu, Arteria menepis hal itu.

“Nggak pernah dikerjakan Prof. Prof tahu nggak?” kata Arteria sambil memperbaiki posisi duduknya. Arteria terlihat  setengah berdiri sembari menghadap ke arah Emil.

“Tiap tahun menyampaikan laporan,” kata Emil.

“Mana Prof, saya di DPR, Prof. Nggak boleh begitu Prof, saya yang di DPR saya yang tahu, mana, Prof sesat, ini namanya sesat,” kata Arteria memotong pernyataan Emil sambil menunjuk-nunjuk ke arah Emil.

Tidak berhenti sampai di situ, di segmen lain, Arteria dan Emil kembali berdebat terkait demokrasi, pemilihan dan korupsi.

“Jadi yang jadi soal Bung. Ada credibility gap, Bung yang dipilih, yang menjadi persoalan itu apa cara memilih itu bebas dari korupsi,” ujar Emil.

“Iya lah,” ucap Arteria.

Arteria Kembali Memotong Pembicaraan

Ketika Emil akan melanjutkan penjelasannya, Arteria kembali memotong pembicaraan.

“Ada buku Bung…,” ucap Emil.

“Jangan…Prof nanya saya bebas korupsi atau tidak, saya yakin. Jangan digeneralisir, Anda bisa jadi menteri karena proses politik di DPR, Pak jangan salah,” kata Arteria yang memajukan badannya sambil menunjuk Emil dengan suara meninggi.

“Kasih contoh, Pak ke generasi muda kita, bernegara dengan baik, beradab dengan baik dan beretika dengan baik,” ucap Emil.

Lalu, Emil melanjutkan pernyataannya terkait demokrasi. Kemudian, lagi-lagi Arteria memotongnya. Akhirnya, Emil meninggikan suaranya sambil membantingkan tangannya ke bawah. Emil pun meminta Arteria diam.

“Persoalan adalah bahwa demokrasi kita ada laporan bahwa ada buku namanya demo,” ucap Emil.

“Tapi jangan digeneralisir,” sela Arteria.

“Dengar dulu,” tegas Emil.

Lalu, Emil menyinggung terkait demokrasi dan pemilihan di Indonesia. Bahkan, Arteria sempat menyela pernyataan Emil tapi pembawa acara Najwa Shihab menghentikan segmen tersebut.

“…Seluruh yang terjadi penangkapan dari KPK adalah politisi yang dipilih jadi persoalannya adalah pemilihan kita, yang kita jalankan belum tentu kredibel, itu menjadi persoalan, jadi bung bangga saya dipilih, tapi apa betul dipilih secara betul, berapa ongkos yang dikeluarkan, dari mana…” ucap Emil.(ct1/bbs)

Afsal Muhammad

Recent Posts

oleh
admin
October 7, 2020 7:06 am
oleh
Reza Fauzie
July 26, 2020 2:06 pm
oleh
Elga Nurani
July 16, 2020 4:43 am
oleh
Elga Nurani
June 17, 2020 6:57 am
oleh
Elga Nurani
June 7, 2020 12:35 pm